Search
Advertisement
(Input html or adsense code here)
Fanpage
KONTAK KAMI
Untitled Document

Pusat

Jl. Pancuran No.117 Cirebon

Hp. 081221272999

Cabang

Jl. Cemara Gg. Kegiren 1 No. 136 Rt.04/01 Cirebon 45123

Hp. 085224244914 PIN BBM 52614c1e

Jl. Siti Purnama No.6 Kawali Kab. Ciamis

Hp. 082217027943-081909918617

Kabsun Kuningan

Jl.Buahgama RT.07 RW.03 Ds. Manggari Kec. Lebakwangi Kabupaten Kuningan

Hp. 081318909751,082316639998,081804631178

 

wp 081221272999

bbm59F74BC1

Recent Comments
    kalender
    March 2021
    M T W T F S S
    « Jan    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    293031  

    Risalah Aqiqah

    RISALAH AQIQAH

    DALAM TIMBANGAN SYARIAH

     

    Oleh : Indra. Sudrajat

     

    Kelahiran sang buah hati selalu dinanti-nanti oleh setiap pasutri, keberadaannya selalu membawa keceriaan pada setiap detik yang dilalui. Dalam melengkapi kebahagaian di awal-awal masa kelahirannya, Islam mensyariatkan AQIQAH[1] sebagai wujud syukur hamba terhadap karunia Allah sang maha pemberi karunia yang telah mengkaruniai kelahiran seorang anak di muka bumi ini.

    AQIQAH[2] merupakan salah satu ibadah harta yang dengannya seseorang menyembelih hewan AQIQAH[3] yang telah ditetapkan ketentuanya dalam syariat. Sebagaimana yang telah diketahui bahwa suatu ibadah tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala, jika dalam ibadah tersebut tidak memenuhi dua syarat umum, yaitu : ikhlâs dan ittibâ’.

    AQIQAH[4]secara bahasa berasal dari kata robek (syaqqa) atau potong (al-qath’u), Syeikh Muhyiddin Abd Al-Hamîd berkata dalam kitabnya[5] : dikatakan dzabîhat (sesembelihan) adalah AQIQAH[6]dikarenakan padanya merobek tenggorokan hewan. Dinamakan AQIQAH[7]pula dikarenakan pada bayi yang baru terlahir terdapat rambut dan demikian pula pada hewan yang baru terlahir terdapat bulu atau rambut yang dalam istilah Arab kuno disebut AQIQAH[8].Tentang hal ini Syeikh Abu Mâlik Kamâl Ibn Sayyid Sâlim berkata di dalam kitabnya[9]: dikatakan AQIQAH[10]karena di atas kepala bayi yang baru terlahir dari perut ibunya terdapat rambut yang tumbuh, baik pada manusia ataupun binatang ternak.

    Secara terminologi AQIQAH[11]didefinisikan dengan apa yang disembelih dari kelahiran seorang bayi sebagai wujud rasa syukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan niat dan syarat-syarat yang khusus[12].

    Dalil-dalil yang terkait dengan disyariatkannya AQIQAH[13] adalah sebagai berikut :

    Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

    فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (الكوثر 2)

    Artinya : maka sholatlah kamu kepada tuhanmu dan bersembelihlah (al-kautsar : 2)

    Sabda Rasulullah shalallahu alayhi wa salam :

    مَعَ الْغُلاَمِ عَقِيْقَةٌ فَأَهْـــــرِقُوا عَنْهُ دَمًــــــــــا وَأمِيْطُوا عَنهُ الْأِذَى (حديث صحيص)

    Artinya : Bersama setiap anak ketetapan AQIQAH[14]maka alirkanlah darah (hewan aqiqah) dari kelahirannya dan singkirkanlah darinya gangguan (dengan beraqiqah) (Hadist Shahîh riwayat Al-Bazâr, Al-Hâkim pada riwayat Ahmad, An-Nasâi, Abu Dâwud dan Al-Tirmidziy dengan lafadz aqîqotuhu serta diriwayatkan oleh Bukhâriy secara mu’allaq majzûman bihi)[15].

    Sabda Rasulullah shalallahu alayhi wa salam : “setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya disembelih hewan AQIQAH[16]pada hari ketujuh dari hari kelahirannya, digundul serta diberi nama” (dari sahabat nabi Samrah Ibn Jundab semoga Allah meridhainya hadist shahîh riwayat Abu Dâwud, Nasâ’i serta Tirmidzi dan Ibn Mâjah)

    Ulama berbeda pendapat tentang hukum AQIQAH[17]sebagian mereka menyatakan wajib sebagian mereka yang lainnya menyatakan sunnah muakkadah. Dasar yang digunakan sebagai hujjah bagi ulama yang mewajibkannya adalah firman Allah dalam surat Al-Kautsar ayat 2 , di mana perintah menyembelih dirangkaikan dengan perintah shalat. Mereka menetapkan hadist setiap anak tergadaikan dengan AQIQAH[18]nyasebagai hujjah kedua di mana hukum asal sesuatu yang tergadai wajib ditebus atau tetapnya sebuah perintah Rasulullah pada hadist imam Bukhâriy secara mu’allaq. Madzhab Al-Dhahiriy berpendapat wajibnya AQIQAH[19]begitu pula imam Hasan Al-Bashriy menyatakan akan kewajiban beraqiqah.

    Meski demikian jumhur ulama berpendapat bahwa hukum AQIQAH[20]adalah sunnah muakkadah, mereka berhujjah dengan hadist yang dikeluarkan oleh imam Abu Dâwud yang derajat hadist ini adalah hasan yang menyatakan bahwa Rasulullah telah bersabda “barang siapa yang menyukai untuk menyembelih maka sembelihlah”. Derajat hadist ini dinilai oleh para ulama ahli hadist dengan derajat hasan, sehingga menurut hemat saya tidak mungkin sesuatu yang berkedudukan hasan pada sebuah hadist mampu mengalahkan hadist yang berkedudukan lebih kuat daripadanya, yaitu hadist shahîh. Terlebih pada agama ini terlarang bertaqlid buta pada sebuah pendapat madzhab, apalagi pada pendapatnya terdapat perkataan yang marjûh (lemah).

    Kesimpulan yang dapat diambil dari perbedaan pendapat ulama bahwa hukum AQIQAH[21]adalah wajib, dan pendapat ini lebih kuat dibandingkan dengan pendapat yang selain daripada pendapat ini. Wallahu ‘alam bi shawab.

    Rujukan :

    1. Kitab AL-AQIQAH karya Syeikh Muhyyiddin Ibn Abd Al-Hamîd, Maktabah Al-Khidmât Al-Hadîtsiyyah, Jeddah Kerajaan Saudi Arabia
    2. Kitab SHOHÎH FIQH AL-SUNNAH karya Syeikh Abu Mâlik Kamâl Sayyid Sâlim, Maktabah Tawqifiyyah, Kairo Mesir

     

    Disusun di Cirebon, 28 Jumadi Tsaniyah 1436 H/18 April 2015

    Dokumentasi milik KABSUN CIREBON

    [1]               KABSUN CIREBON ibadah tenang hati pun senang sedia hewan AQIQAH & QURBAN sesuai syariah

    [2]               KABSUN CIREBON ibadah tenang hati pun senang sedia hewan AQIQAH & QURBAN sesuai syariah

    [3]               KABSUN CIREBON ibadah tenang hati pun senang sedia hewan AQIQAH & QURBAN sesuai syariah

    [4]               KABSUN CIREBON ibadah tenang hati pun senang sedia hewan AQIQAH & QURBAN sesuai syariah

    [5]               Abd Al-Hamîd, Muhyiddin. Al-Aqîqah hal. 7, Maktabah Al-Khidmât Al-Hadîtsiyyah, Jeddah KSA 1421 H

    [6]               KABSUN CIREBON ibadah tenang hati pun senang sedia hewan AQIQAH & QURBAN sesuai syariah

    [7]               KABSUN CIREBON ibadah tenang hati pun senang sedia hewan AQIQAH & QURBAN sesuai syariah

    [8]               KABSUN CIREBON ibadah tenang hati pun senang sedia hewan AQIQAH & QURBAN sesuai syariah

    [9]               Sâlim, Abu Mâlik Kamâl Sayyid, Shahîh Fiqh Al-Sunnah, Jilid 2, hal. 380, Al-Maktabah Al-Tawqifiyyah, Kairo Mesir 2003, selanjutnya Sâlim, Abu Mâlik Kamâl Sayyid, Shahîh Fiqh Al-Sunnah.

    [10]             KABSUN CIREBON ibadah tenang hati pun senang sedia hewan AQIQAH & QURBAN sesuai syariah

    [11]             KABSUN CIREBON ibadah tenang hati pun senang sedia hewan AQIQAH & QURBAN sesuai syariah

    [12]             Sâlim, Abu Mâlik Kamâl Sayyid, Shahîh Fiqh Al-Sunnah, hal. 380.

    [13]             KABSUN CIREBON ibadah tenang hati pun senang sedia hewan AQIQAH & QURBAN sesuai syariah

    [14]             KABSUN CIREBON ibadah tenang hati pun senang sedia hewan AQIQAH & QURBAN sesuai syariah

    [15]             Sâlim, Abu Mâlik Kamâl Sayyid, Shahîh Fiqh Al-Sunnah, hal. 380

     

    [16]             KABSUN CIREBON ibadah tenang hati pun senang sedia hewan AQIQAH & QURBAN sesuai syariah

    [17]             KABSUN CIREBON ibadah tenang hati pun senang sedia hewan AQIQAH & QURBAN sesuai syariah

    [18]             KABSUN CIREBON ibadah tenang hati pun senang sedia hewan AQIQAH & QURBAN sesuai syariah

    [19]             KABSUN CIREBON ibadah tenang hati pun senang sedia hewan AQIQAH & QURBAN sesuai syariah

    [20]             KABSUN CIREBON ibadah tenang hati pun senang sedia hewan AQIQAH & QURBAN sesuai syariah

    [21]             KABSUN CIREBON ibadah tenang hati pun senang sedia hewan AQIQAH & QURBAN sesuai syariah

    Keutamaan Aqiqah

    RAMBUT BAYI YANG TERPANGKAS

    DALAM BAHASAN KEUTAMAAN AQIQAH YANG RINGKAS

     

    OLEH : INDRA SUDRAJAT

     

    Dalam menjalankan suatu ibadah terdapat di dalamnya targhîb (motivasi untuk mendapatkan pahala) dan tarhîb (rasa takut akan adanya ancaman neraka) diingiringi rasa cinta seorang hamba terhadap sang maha Pencipta, Allah tabaraka wa ta’ala (mahabbah), sehingga kompensasi duniawi dan ukhrowi selalu menjadi alasan yang kuat seseorang melaksanakan ibadah.

    Pada setiap ibadah yang ditetapkan syariat terdapat di dalamnya keutamaan-keutamaan yang menyertai kelengkapan seorang hamba dalam mewujudkan tiga poros ibadah yang di atas (targhîb, tarhîb, mahabbah), sebagai langkah penjabaran dan penguraian hikmah-hikmah yang terkandung dalam sebuah ibadah. Adapun keutamaan-keutamaan AQIQAH[1]sebagai berikut:

    1. Ungkapan rasa syukur seorang hamba kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang telah menganugerahkan buah hati di dalam kehidupan berumah tangganya sebagai ungkapan kebahagian (uvoria) atas kehadiran sang buah hati di tengah-tengah kehidupan[2].
    2. Melaksanakan syi’ar Allah yang merupakan syi’ar agama ini, sebagai wujud ketaqwaan serta penghambaan diri seorang hamba kepada ketetapan-ketetapan syariatNya[3].
    3. Amalannya orang-orang shaleh terdahulu yang telah mewariskan banyak kebaikan dari ajaran-ajaran agama yang telah dicintai oleh Allah berdasarkan petunjuk Rasulullah, sebagai penghapus atas adat-adat yang dibuat oleh manusia yang tidak terdapat di dalamnya petunjuk illahi[4].
    4. Menghilangkan gangguan terhadap bayi ketika mereka terlahir di atas muka bumi ini bersamaan dengan tersembelihnya kambing atau domba disertai dengan menggundul rambut bayi, diberi nama dengan nama-nama yang indah, dikhitan, bersedekah atas timbangan rambutnya dengan perak[5].
    5. Menghilangkan kebiasan-kebiasan buruk ajaran setan yang telah diwariskan oleh para leluhur dalam ritual-ritual menyabut kelahiran sang bayi pada khurafat-khurafat, tathayur, mitos-mitos yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Seperti halnya masyarakat jahiliyyah suku Quraisy yang melumurkan darah-darah hewan yang disembelih di atas kepala sang bayi, atau apa yang dilakukan oleh sebagian masyarakat Indonesia yang dipengaruhi oleh budaya suatu agama tertentu, menyalakan lentera di atas ari-ari bayi, mengarak ari-ari bayi yang sudah dikemas di dalam tembikar dan kemudian digendong oleh sang ayah menggunakan kain tertentu, menanamkan beberapa lidi dan pepohonan sebagai simbol perlindungan dari roh-roh jahat serta sebagai simbol kesuksesan di masa yang akan datang.

    Demikian risalah ringan yang telah saya sarikan dari beberapa kitab para ulama yang mudah-mudahan memberikan wawasan baru tentang permasalahan yang terkadang membutuhkan solusi

    Walillahit tawfiqwallahu ‘alam bisshowab

    Rujukan :

    1. 1. Kitab AL-AQIQAH karya Syeikh Muhyyiddin Ibn Abd Al-Hamîd, Maktabah Al-Khidmât Al-Hadîtsiyyah, Jeddah Kerajaan Saudi Arabia
    2. Kitab SHOHÎH FIQH AL-SUNNAH karya Syeikh Abu Mâlik Kamâl Sayyid Sâlim, Maktabah Tawqifiyyah, Kairo Mesir
    3. Kitab Minhajul Muslim, karya Syeikh Abu Bakar Jâbir Al-Jazâiriy, Maktabah Al-Ulûmi Wa Al-Hikami, Madinah KSA 2006

    Disusun di Cirebon, 29 Jumadi Tsaniyah 1436 H/19 April 2015

    Dokumentasi milik KABSUN CIREBON

    IBADAH TENANG

    HATI PUN SENANG

    [1]               KABSUN CIREBON ibadah tenang hati pun senang sedia hewan AQIQAH & QURBAN sesuai syariah

    [2]               Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

    لَئِنْ شَكـَرْتُمْ لَأزِيدنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

    Artinya : jika kalian benar-benar telah bersyukur sungguh akan Aku tambahkan bagi kalian nikmat dan jika kalian mengingkari sesungguhnya adzabKu amat sangatlah pedih (Q. S. Ibrahim : 7)

    [3]               Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

    ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعـَـــائِرِ اللهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُـلُوبِ

    Artinya : demikianlah dan barang siapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah maka sesungguhnya ia dari ketaqwaan hati (Q.S. Al-Hajj : 32)

    [4]               Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

    وَمَنْ يُشـَـاقِقِ الرَّسُوْلَ مِنْ بَعْدِ مَا تِبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيْرًا

    Artinya : dan barang siapa yang menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan selain jalan-jalannya orang yang beriman, kami membiarkannya terhadap apa yang ia telah jadikan baginya jalan kesesatan itu dan kami masukkan ia ke dalam jahannam dan jahannam itulah seburuk-buruk tempat kembali (Q.S. Annisa : 115)

    [5]               Rasulullah shalallahu alayhi wa salam bersabda :

    مَعَ الْغُلاَمِ عَقِيْقَةٌ فَأَهْـــــرِقُوا عَنْهُ دَمًــــــــــا وَأمِيْطُوا عَنهُ الْأِذَى (حديث صحيص)

    Artinya : Bersama setiap anak ketetapan aqiqah maka alirkanlah darah (hewan aqiqah) dari kelahirannya dan singkirkanlah darinya gangguan (dengan beraqiqah) (Hadist Shahîh riwayat Al-Bazâr, Al-Hâkim pada riwayat Ahmad, An-Nasâi, Abu Dâwud dan Al-Tirmidziy dengan lafadz aqîqotuhu serta diriwayatkan oleh Bukhâriy secara mu’allaq majzûman bihi)